AI sedang Berusaha Memahami Manusia

Source: Deep Learning on Medium

AI sedang Berusaha Memahami Manusia

Emotional Recognition Illustration | Source: istockphoto.com

Artificial Intelligence menghasilkan banyak sekali produk. Diantara sekian banyak, beberapa mungkin sudah sering kita manfaatkan penggunaan nya. Seperti penulis yang sudah memanfaatkan teknologi Google Assistant sebagai sarana untuk mencatat dan memasang pengingat di smartphone. Meski produk yang menggunakan teknologi ini sudah sangat menjamur, apa sebenar nya AI benar-benar paham manusia? Memang beberapa produk diciptakan untuk memudahkan manusia. Bertugas mencatat, mengganti lagu, atau bahkan mengemudi tanpa bantuan manusia.

Artificial Intelligence sebagai sebuah program di desain untuk mampu melakukan serangkaian hal layak nya manusia. Namun kita paham, sebuah program ataupun robot tidak akan mampu meniru manusia seutuhnya. Memang terlihat mampu mengemudi sendiri, namun program AI belum dirancang untuk memahami perasaan manusia. Sebuah aspek penting dari penemuan, memahami kondisi mental seseorang demi mendapatkan hasil yang lebih baik.

Meski seringkali dikisahkan memiliki perasaan dan watak tertentu dalam film. Nyatanya, belum ada penemuan yang benar-benar mampu memahami sifat manusia. Sebuah produk berbasis Artificial Intelligence sangat memungkinkan untuk di program guna memahami perasaan manusia, hanya saja hingga saat ini, penemuan semacam itu masih belum banyak. Beberapa penemuan bahkan tidak terlalu efisien, entah karena penggunaan nya yang tidak mudah, maupun hasil nya yang tidak akurat.

AI memang memiliki kapabilitas, namun belum sepadan. Kemampuan sebuah program AI untuk menganalisa tingkat emosi manusia dan akal masih cukup rendah. Namun seiring waktu berjalan, kekurangan ini terus dipelajari dan diteliti jalan pintas nya. Para peneliti AI percaya bahwa kemampuan analisa emosi dan akal sehat akan menjadi bagian penting dari pengembangan AI dan aplikasi di masa depan. Kini, setelah bertahun-tahun penelitian oleh banyak peneliti Artificial Intelligence, beberapa produk sudah mulai memanfaatkan tingkat emosional dan perasaan manusia sebagai fitur tambahan pada produk mereka.

Emotional Recognition Illustration : searchenginejournal.com

Beberapa perusahaan periklanan dan riset pasar sudah mulai menggunakan AI yang mampu menganalisa tingkat emosional konsumen nya. Mereka melakukan analisa ini dengan cara melihat respon konsumen setelah melihat suatu iklan, kemudian mereka akan melakukan riset mengenai tingkat efektifitas iklan tersebut berdasarkan akal sang konsumen. Lalu dimana perusahaan periklanan mendapatkan data nya? Beberapa perusahaan memasang kamera khusus yang mampu menganalisa wajah seseorang saat melihat iklan pada sebuah billboard. Nantinya, kamera akan menentukan tingkat emosional orang yang melihat iklan tersebut dan menjadikan nya sebuah kumpulan data yang bisa di analisa untuk di tindak lanjuti.

Industri kesehatan pun tak tinggal diam. Sangat mengandalkan tingkat emosional sang pasien menjadikan Artificial Intelligence dituntut untuk dapat bekerja secara maksimal. Beberapa produk AI berbasiskan Deep Learning sudah banyak bermunculan, kebanyakan penggunaan nya berfokus pada diagnosa penyakit sebelum ditindak lanjuti oleh dokter berwenang. Namun dalam perkembangan nya, kini AI dalam bidang kesehatan juga sudah mulai menggunakan emotional recognition guna memahami pasien lebih baik lagi. Pihak farmasi misal nya, mereka dapat menganalisa suasana hati pasien terhadap pengobatan yang diberikan kepada nya. Emotional recognition ini juga berguna untuk mendeteksi tanda-tanda awal penyakit Parkinson. AI di bidang kesehatan memang diklaim mampu menjadi pasukan garis depan guna melakukan diagnosa awal mengenai suatu penyakit.

Tak hanya industri besar. Perusahaan-perusahaan pencipta virtual assistant pun kini sudah mulai menerapkan emotional recognition. Amazon Alexa misalnya, mereka mengembangkan suatu teknologi terbaru bagi asisten virtual tersebut. Alexa nantinya akan mampu menganalisa tingkat emosional pengguna nya berdasarkan intonasi nada yang digunakan sang pemilik. Nantinya, seiring berkembang nya teknologi virtual assistant, diharapkan akan muncul juga virtual companions. Sebuah ‘upgrade’ dari virtual assistant yang memahami tingkat emosional pengguna nya.

Car Emotional Recognition Illustration | Source: affectiva.com

Industri otomotif juga mengambil peran nya dalam dunia emotional recognition. Belum alam ini, sebuah produsen otomotif, Ford mengembangkan teknologi yang mampu mendeteksi emosi pengemudi nya. Fungsi dari emotion recognition dalam produk otomotif adalah mencegah kemampuan mengemudi yang disalahgunakan karena tingkat emosional. Seperti marah ataupun tidak fokus dalam perjalanan. Nantinya mobil akan mengambil alih kemudi sehingga tidak terjadi kejadian yang membahayakan pengemudi dan pengemudi disekitar nya.

Meski akan menjadi perjalanan yang panjang bagi emotion recognition untuk mampu berjalan selaras dengan pendahulu nya seperti face recognition dan lain nya. Setidaknya kini AI terus melangkah maju karena penemuan nya yang terus berkembang dan tak henti memanjakan mata kita sebagai konsumen.

Bibliography: