Penderitaan Yang Beradu

Source: Deep Learning on Medium

“ Lu mah begitu, lah gimana gue yang…”

Sebuah pembuka tanggapan yang biasanya dilanjutkan dengan cerita kesengsaraan “yang katanya” lebih sengsara dari yang punya cerita.

Ribuan masalah udah jadi makanan di setiap masa di dalam hidup gue, yang satu dapat diatasi, terus datang lagi. Seolah enggak ada habisnya. Gue rasa menciptakan gue juga adalah bentuk masalah bagi Tuhan. Gue percaya, setiap orang punya persoalannya masing-masing.

Oh iya, menyoal soal persoalan, gue mulai tau sesuatu, entah hal ini hanya gue yang notice atau, orang lain juga.

“ kenapa ya kalau dulu, orang yang curhat soal masalahnya, itu cuma nyeritain keluh kesahnya ke orang-orang tertentu yang dia percaya, tapi kalau sekarang orang makin berani untuk menulis di platfom favoritnya”.

Ehm, beberapa waktu ini gue lalu menyadari, terkadang ada keinginan untuk sekedar didengarkan yang bahkan tak terpenuhi saat gue menceritakan masalah gue dengan orang yang gue percaya.

“ yaelah lu mah mending, gua mah lebih gilak”

“ beuh, maneh ge pedah nu kitu hungkul, kumaha kabarna aing”

“ ah, lemah kali kau, kau gak tau aja masalah awak “

Seolah menjadi tren, bareng sama temen-temen gue dari berbagai circle.. perkataan itu selalu terlontar setiap gue menceritakan persoalan dalam hidup gue. Kita sering menemukan banyaknya persaingan dalam hidup kita, tapi kenapa sampai penderitaan kita pun kita adukan?

Dan, buat kalian yang juga merasakannya, biar gue sampaikan..

“ Asli, demi apapun, itu enggak enak “

Terkadang ada seseorang yang menceritakan persoalan hidupnya, yang hanya ingin didengarkan, tapi lucunya alih-alih didengar, justru dibanding-bandingkan. Maka jangan salahkan kalau makin banyak orang yang menyerahkan persoalan itu di platform nya. Iya, itu gue.

Mungkin (sebenarnya, pasti) bukan cuma gue kok yang mengalami ini, gue pernah menjadi pelaku, pun meski lebih sering menjadi korban dan itu salah. Coba deh, ingat-ingat, pernah gak sih kalian begitu? Kalau sudah, coba bayangkan perasaan dia yang sebenarnya tapi gak kalian tahu. Sedih.

Kita gak wajib kok untuk menanggapi cerita atau persoalan teman kita kalau kita memang enggak tahu mau menanggapi apa, karena hanya dengan sekedar mendengarkan, itu akan jauh lebih baik ketimbang memberatkan penderitaan kita apalagi menyinggung persoalan dia yang menurut lo, enggak seberapa.

a short chat while swallowing the dusk at the lake’s corner.