Peran Artificial Intelligence di Industri Food and Beverage

Original article was published on Artificial Intelligence on Medium

Peran Artificial Intelligence di Industri Food and Beverage

Belakangan ini kita sering melihat bahwa banyak sekali kasus saudara kita di luar sana masih banyak yang kelaparan. Hal tersebut didukung oleh riset yang dilakukan oleh Global Hunger Index pada tahun 2019, menyebutkan bahwa Indonesia tergolong negara yang tingkat kelaparannya serius. Lain halnya dengan saudara-saudara kita yang tinggal di daerah perkotaan. Jika dikutip Badan Ketahanan Pangan Kementan dan sumber lain, sampah makanan atau food waste orang Indonesia satu tahunnya bisa mencapai hingga 1,3 juta ton. Jika dirata-rata, satu orang menghasilkan sampah makanan 300 kilogram per tahun. Menariknya angka tersebut ternyata mampu menghidupi 11% penduduk atau 28 juta penduduk miskin yang kurang mendapat asupan gizi.

Ternyata diketahui bahwa sumber utama dari sampah makanan tersebut berasal dari restoran. Mayoritas restoran yang ada selalu menyediakan makanan sebelum pesanan datang atau bisa dibilang Make To Stock (MTS). Dengan sistem yang ada, pihak restoran hanya bisa menerka jumlah makanan yang diproduksi tanpa didasari dengan data.

Smart Restaurant atau Smart Dining merupakan suatu inovasi akibat adanya kolaborasi antara industri restoran dengan AI. Penerapan AI pada restoran dapat dengan mengumpulkan dan mempelajari kebiasaan konsumen pada restoran tersebut. Contohnya seperti jumlah konsumen yang datang per jamnya, jam sibuk restoran tersebut, dan menu yang paling disuka. Dari data-data tersebut, pihak restoran dapat melakukan pengembangan dari segi manajemen dan produksi agar bisa memaksimalkan keuntungan dengan meminimalkan makanan yang terbuang sia-sia.

Keuntungan langsung dari penerapan AI telah dibuktikan oleh perusahaan restoran cepat saji di Amerika Serikat, yaitu Zume Pizza. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat di Amerika Serikat sangat menyukai pizza. Tetapi terkadang tidak semua lokasi dekat dengan restoran pizza. Jarak tersebutlah yang menjadi halangan dari konsumen, karena biaya ongkos kirim yang terlalu mahal dan waktu tunggu yang terlalu lama. Hal itulah yang ingin coba diselesaikan oleh Zume Pizza.

Zume Pizza mengimplementasikan AI pada model bisnisnya untuk mempelajari kebiasaan dari konsumennya. Dari lokasi, waktu, hingga menu yang konsumen suka. Dari situ Zume Pizza dapat menyimpulkan kapan waktu konsumen mereka banyak yang memesan, lokasi mana mayoritas konsumen mereka berada, serta menu apa yang sering dibeli. Dengan begitulah mereka dapat mengembangkan bisnis modelnya.

Solusi yang mereka hadirkan adalah dengan memodifikasi truk kecil menjadi sebuah restoran pizza berjalan yang akan berhenti pada waktu yang telah ditentukan di lokasi yang mana banyak konsumen mereka. Pizzanya di produksi pada truk kecil itu, sehingga saat pizzanya sampai di konsumen keadaannya masih hangat. Untuk mengantarkannya, mereka tetap menggunakan moda transportasi yang lebih kecil untuk mencapai daerah-daerah yang kecil.

Untuk proses produksinya sendiri, mereka menggunakan metode Make To Order (MTO). Pada prosesnya mereka menggunakan kombinasi tenaga kerja manusia dan robot. Tenaga kerja manusia bertugas untuk menyiapkan adonan, dan sisa proses produksi dikerjakan oleh robot. Terbukti proses produksinya lebih cepat daripada menggunakan sepenuhnya tenaga kerja manusia.

Proses produksi pizza di Zume Pizza. Sumber: TechCrunch

Kesuksesan Zume Pizza tidak lepas dari penggunaan algoritma atau AI yang dapat memprediksi konsumen yang akan membeli pizza mereka pada saat itu. Dengan menggunakan sistem robot yang telah di otomasi. Saat pesanan pizza itu datang, maka oven yang ada di truk mereka akan langsung memanaskan pizza yang sesuai dengan pesanan. Dengan begitu, tidak ada lagi kejadian membuang-buang pizza yang telah dibuat karena tiba-tiba hari itu tidak ada pengunjung yang membeli pizza mereka.

Seharusnya dengan adanya Revolusi Industri 4.0 ini, berbagai permasalahan dapat diselesaikan dengan kolaborasi antara usaha manusia dengan teknologi. Inovasi yang dilakukan oleh Zume Pizza bisa diadopsi oleh industri makanan di Indonesia. Hal tersebut harus cepat dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada, yaitu food waste. Pemerintah disini harus mengambil peran dengan melakukan inisiasi dan sosialisasi ke industri makanan.